Monday, February 22, 2010
satu kelahiran yang dinantikan
Tanggal 9 Feb 2010, lahir anak saya yang ketiga kira-kira jam 1636H. Bayi tersebut kami namakan Muhammad Adib yang bermaksud seorang yang mempunyai keperibadian yang baik.
Sunday, December 6, 2009
Wednesday, December 2, 2009
SEHARI DIPERTUNJUKAN LIMA LANGKAWI
2 Dis 2009, Seawal jam 4.30 pagi dengan semangat ingin melihat pertunjukan udara dan maritim di Langkawi telah mengejutkan saya dari tidur untuk satu perjalanan ke Pulau langkawi. Manakala jam 5 pagi saya telah bergegas ke Cawang Pergerakan Udara untuk pelepasan. Lebih kurang jam 6.50 pagi baru pesawat charlie 130 sampai dari Subang dan membawa kami ke lapangan terbang Langkawi. Walaubagaimanapun, malangnya seramai 15 orang anggota TUDM kuantan tidak dapat bersama-sama kami dalam perjalanan ini kerana terlebih muatan penumpang. Kira-kira jam 8.00 pagi kami sampai ke Langkawai dengan tidak sempat mendengar taklimat daripada sekretariat disana kerana kesibukan pihak mereka. namun jam 8.30 pagi kami sempat hadir program TUDM bersamamu TV3 dengan Panglima Tentera Udara sebagai jemputan. Lawatan ke gerai-gerai pameran begitu mengujakan dengan penyertaan yang terdiri daripada syarikat-syarikat pertahanan dari dalam dan luar negara disamping gerai pameran daripada pihak TUDM sendiri.
kira-kira jam 10 pagi, pertunjukan udara bermula dengan aksi pertama oleh pesawat MIG 29N oleh tim daripada 17/19 sqn. Kemudian diikuti dengan pesawat sukhoi, aermacci, apachee Longbow serta pesawat-pesawat yang lain.
Dalam kesibukan itu sempat jua saya membeli belah di pekan Kuah dengan membeli beberapa buah tangan seperti coklat serta beberapa cenderahati untuk keluarga. Disebelah petang pula kami sempat ke Awana Porto Malai untuk melihat beberapa buah kapal perang termasuk kapal selam scorpene yang berlabuh disana. Sehingga jam 1830 petang kami telah bergerak pulang ke Kuantan dan tiba lebih kurang jam 1940 malam.
Menonton pameran yang hadir 2 tahun sekali ini sememangnya amat dinantikan oleh seluruh rakyat malaysia, namun apa yang nyata kali ini, dilihat pameran kali ini agak kurang meriah kerana kurangnya penyertaan pesawat-pesawat udara yang amat dinantikan seperti kumpulan akrobatik red arrow, thunderbirds dan banyak lagi. Lebih -lebih lagi pertunjukan udara kali ni lebih kepad persembahan pesawat solo yang kurang mengujakan. Walau apapun sebagai rakyat Malaysia saya rasa agak bertuah kerana malaysia tidak pernah terlepas menganjurkan pertunjukan ini walaupun keadaan ekonomi yang kurang stabil. Saksikan beberapa bingkisan daripada sana.
Monday, November 30, 2009
KIAMAT 2012... ATAU SATU AGENDA -SAMBUNGAN
Saat tibanya hari kiamat atau hari akhir adalah suatu persoalan yang dipegang sendiri dan hanya diketahui oleh Allah swt. Jadi tidak seorang makhluk pun yang dapat mengetahuinya, baik dari kalangan nabi atau rasul, maupun malaikat yang sangat dekat hubungannya dengan Allah Taala. Semua tidak ada yang mengetahui bila datangnya waktu itu. Allah Taala dalam hal ini berfirman, “Sesungguhnya di sisi Allah sajalah ilmunya untuk mengetahui saat tibanya hari kiamat. Allah pula yang menurunkan hujan dan yang mengetahui apa yang ada di dalam rahim ibu.” (Q.S. Luqman:34)
Para sahabat di zaman Rasulullah saw. dahulu pun sudah sama menginginkan untuk mengetahui persoalan yang pelik ini. Mereka bertanya kepada beliau, bahkan ada yang bersikap sangat mendesak, tetapi Allah Taala memberi perintah kepada baginda agar hal itu dikembalikan saja semata-mata kepada Allah belaka. Ringkasnya hanya Allah Taala Yang Maha Esa yang mengetahui tibanya masa itu. Allah Taala berfirman, “Kepada Allah jualah dikembalikan pengetahuan saat tibanya hari kiamat itu.” (Q.S. Fushshilat:47)
Soal jawab mengenai hari tibanya hari kiamat pun tercatat dalam lembaran Alquran, sebagaimana firman-Nya, “Orang-orang sama bertanya kepadamu (hai Muhammad) tentang sa'ah (hari kiamat), bila datangnya? Katakanlah, ‘Pengetahuan tentang sa'ah adalah di sisi Tuhanku, tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktunya selain dari Tuhan. Berat sekali mengetahuinya bagi para penghuni langit dan bumi. Ia tidak akan datang padamu semua melainkan dengan cara yang tiba-tiba saja’. Mereka bertanya pula padamu, seolah-olah engkau dapat menerangkannya. Katakanlah, ‘Pengetahuan tentang sa'ah adalah di sisi Tuhan, tetapi kebanyakan manusia memang tidak mengetahui’.” (Q.S. Al-A'raf:187)
Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a. bahawa Nabi saw. bersabda, “Kunci kegaiban ada lima perkara tidak ada yang dapat mengetahuinya kecuali Allah sendiri, yaitu bahwa di sisi Allah sajalah pengetahuan waktu tibanya hari kiamat, Allah pula yang mengetahui waktu turunnya hujan, Allah saja yang mengetahui apa yang ada di dalam rahim, tidak seorang pun mengetahui apa yang akan dikerjakan esok hari dan tidak seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia akan meninggal dunia.”
Dalam tafsir Imam Alusi berkata, “Allah swt. sengaja merahasiakan urusan datangnya hari kiamat karena adanya hikmah syariat dalam hal itu, sebab dengan merahasiakannya, maka akan menyebabkan seseorang lebih memperhatikan ketaatan terhadap Allah dan lebih menghindarkan diri dari perbuatan maksiat. Ini adalah bagaikan merahasiakan saat tibanya ajal (kematian) yang khusus bagi setiap manusia. Tujuannya adalah sebagaimana di atas pula.” Jika ada yang berkata bahwa hikmah pengaturan alam ini pun dimaksudkan sedemikian pula, maka pendapat semacam ini rasanya tidak terlalu jauh dari kebenaran.
Melihat lahir ayat-ayat yang ada, terang bahwa Rasulullah saw. sendiri tidak mengetahui secara pasti bila tibanya hari kiamat. Memang beliau hanya memberikan tanda-tanda tentang sudah dekat saatnya bahkan beliau memberitahukan pula bahwa dengan diutusnya baginda sendiri sudah merupakan salah satu tanda dekat tibanya saat itu. Dalam sebuah hadis yang dikeluarkan oleh Tirmizi dan dianggap sebagai hadis sahih dari Anas r.a. Rasulullah saw. bersabda, “Saya diutus dan jarak waktu antara saya diutus dengan tibanya hari kiamat adalah seperti dua buah jari ini.” (Beliau menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya).
Disebutkan pula dalam sahih Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar r.a. dari Rasulullah saw., sabdanya, “Jarak waktumu dengan hari kiamat, dibanding dengan waktu-waktu bagi umat-umat yang sebelummu adalah seperti antara salat asar dengan terbenamnya matahari.”
Perihal penghabisan dari kehidupan di dunia, sama sekali tidak terdapat sebuah hadis pun yang sahih yang kiranya dapat digunakan sebagai pegangan. Ibnu Hazmin berkata, “Kita kaum muslimin tidak dapat memberikan ketentuan dengan menggunakan hitungan yang biasa kita kenal di dunia ini. Apabila ada orang yang mengklaim bahwa lamanya ada tujuh ribu tahun atau lebih atau kurang dari itu, maka orang yang berkata demikian, benar-benar telah mengemukakan sesuatu yang tidak ada keterangannya sama sekali dari Rasulullah saw. Sebabnya ialah karena dari beliau sendiri tidak pernah ada sebuah kata pun yang sahih mengenai hal itu, bahkan yang benar ada dari beliau adalah kebalikan atau yang berlawanan dari adanya ketentuan tadi. Oleh karena itu kita harus menetapkan saja bahwa dunia ini mempunyai suatu masa yang tertentu yang hanya diketahui oleh Allah Taala sendiri. Dalam hal ini Allah Taala berfirman, ‘Aku (Allah) tidak mempersaksikan kepada mereka mengenai penciptaan langit dan bumi, bahkan tidak pula mengenai penciptaan diri mereka sendiri’.” (Q.S. Al-Kahf:51)
Rasulullah saw. juga bersabda, “Tidaklah kamu semua jika dibandingkan dengan masa-masa umat yang sebelummu itu, melainkan hanya sebagai sehelai rambut putih di kulit lembu yang hitam atau sebagai sehelai rambut hitam di kulit lembu yang putih (maksudnya sebentar sekali).” Ini adalah suatu perumpamaan, maka bagi seseorang yang memikirkan hal dengan tenang serta mengetahui kadar pemeluk agama Islam dan disesuaikan pula dengan masa kemakmuran dunia yang ada di tangan mereka, tentu ia dapat mengambil kesimpulan bahwa dunia ini benar-benar mempunyai masa yang tidak dapat diketahui oleh siapa pun. Satu-satunya yang mengetahui hanyalah Allah swt.
Demikian pula apa yang disabdakan Rasulullah saw. bahwa waktu antara diutusnya beliau dengan waktu datangnya hari kiamat diumpamakan sebagai letak dua jarinya yang berdekatan yakni jari telunjuk dan jari tengah. Sewaktu menunjukkan beliau merapatkan letak dua jari tersebut. Dalil agama sudah jelas bahwa tibanya hari kiamat tidak dapat diketahui dengan pasti dan yang mengetahui hanyalah Allah Taala belaka. Jadi benarlah bahwa Rasulullah saw. dengan memberikan perumpamaan sebagaimana di atas, dengan maksud memberitahukan sangat dekatnya waktu itu, oleh sebab kedua jari beliau dirapatkan bukan direnggangkan jarak antara yang sebuah dengan yang lainnya. Sebabnya ialah andaikata demikian tujuannya, tentu dapat diambil kesimpulan berapa jarak yang ada antara kedua jari yang terlonggar atau dengan menyesuaikan panjang jarinya. Dengan mengukur demikian, tentu dapat dipastikan bila waktu tibanya hari kiamat itu. Tetapi perkiraan yang semacam itu pasti batal dan salah sama sekali. Lagi pula, jika ketentuan demikian ditemukan, tentu perumpamaan masa antara umat-umat dahulu dengan zaman kita sekarang ini sebagai sehelai rambut di kulit lembu sebagaimana hadis di atas, tentu merupakan suatu dusta belaka, naudzu billah min dzalik.
Oleh kerana yang terang dan jelas yang dimaksud oleh Rasulullah saw. dalam menunjukkan dua jari beliau yang mulia bukanlah supaya dapat dipastikan perkiraan bila tibanya hari kiamat, tetapi semata-mata sebagai gambaran tentang dekatnya saja. Hingga kini masa diutusnya Rasulullah saw. sudah lebih dari seribu empat ratus tahun, sedang Allah Taala akan lebih mengetahui lagi berapa usia yang tertinggal dari waktu dunia kita ini. Kalau pun masa sekian ini dianggap cukup lama, tetapi masih dapat dikatakan sebentar bila dibandingkan dengan masa sebelumnya yakni yang sudah lampau. Pendek kata masih sangat sedikit bila diukur dengan masa-masa yang telah berlalu karena Rasulullah saw. sendiri telah jelas memberikan perumpamaan antara masa kita sekarang dengan yang sudah-sudah sebagai sehelai rambut di kulit lembu atau sebagai suatu titik di lengan seekor keldai.
Para sahabat di zaman Rasulullah saw. dahulu pun sudah sama menginginkan untuk mengetahui persoalan yang pelik ini. Mereka bertanya kepada beliau, bahkan ada yang bersikap sangat mendesak, tetapi Allah Taala memberi perintah kepada baginda agar hal itu dikembalikan saja semata-mata kepada Allah belaka. Ringkasnya hanya Allah Taala Yang Maha Esa yang mengetahui tibanya masa itu. Allah Taala berfirman, “Kepada Allah jualah dikembalikan pengetahuan saat tibanya hari kiamat itu.” (Q.S. Fushshilat:47)
Soal jawab mengenai hari tibanya hari kiamat pun tercatat dalam lembaran Alquran, sebagaimana firman-Nya, “Orang-orang sama bertanya kepadamu (hai Muhammad) tentang sa'ah (hari kiamat), bila datangnya? Katakanlah, ‘Pengetahuan tentang sa'ah adalah di sisi Tuhanku, tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktunya selain dari Tuhan. Berat sekali mengetahuinya bagi para penghuni langit dan bumi. Ia tidak akan datang padamu semua melainkan dengan cara yang tiba-tiba saja’. Mereka bertanya pula padamu, seolah-olah engkau dapat menerangkannya. Katakanlah, ‘Pengetahuan tentang sa'ah adalah di sisi Tuhan, tetapi kebanyakan manusia memang tidak mengetahui’.” (Q.S. Al-A'raf:187)
Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a. bahawa Nabi saw. bersabda, “Kunci kegaiban ada lima perkara tidak ada yang dapat mengetahuinya kecuali Allah sendiri, yaitu bahwa di sisi Allah sajalah pengetahuan waktu tibanya hari kiamat, Allah pula yang mengetahui waktu turunnya hujan, Allah saja yang mengetahui apa yang ada di dalam rahim, tidak seorang pun mengetahui apa yang akan dikerjakan esok hari dan tidak seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia akan meninggal dunia.”
Dalam tafsir Imam Alusi berkata, “Allah swt. sengaja merahasiakan urusan datangnya hari kiamat karena adanya hikmah syariat dalam hal itu, sebab dengan merahasiakannya, maka akan menyebabkan seseorang lebih memperhatikan ketaatan terhadap Allah dan lebih menghindarkan diri dari perbuatan maksiat. Ini adalah bagaikan merahasiakan saat tibanya ajal (kematian) yang khusus bagi setiap manusia. Tujuannya adalah sebagaimana di atas pula.” Jika ada yang berkata bahwa hikmah pengaturan alam ini pun dimaksudkan sedemikian pula, maka pendapat semacam ini rasanya tidak terlalu jauh dari kebenaran.
Melihat lahir ayat-ayat yang ada, terang bahwa Rasulullah saw. sendiri tidak mengetahui secara pasti bila tibanya hari kiamat. Memang beliau hanya memberikan tanda-tanda tentang sudah dekat saatnya bahkan beliau memberitahukan pula bahwa dengan diutusnya baginda sendiri sudah merupakan salah satu tanda dekat tibanya saat itu. Dalam sebuah hadis yang dikeluarkan oleh Tirmizi dan dianggap sebagai hadis sahih dari Anas r.a. Rasulullah saw. bersabda, “Saya diutus dan jarak waktu antara saya diutus dengan tibanya hari kiamat adalah seperti dua buah jari ini.” (Beliau menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya).
Disebutkan pula dalam sahih Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar r.a. dari Rasulullah saw., sabdanya, “Jarak waktumu dengan hari kiamat, dibanding dengan waktu-waktu bagi umat-umat yang sebelummu adalah seperti antara salat asar dengan terbenamnya matahari.”
Perihal penghabisan dari kehidupan di dunia, sama sekali tidak terdapat sebuah hadis pun yang sahih yang kiranya dapat digunakan sebagai pegangan. Ibnu Hazmin berkata, “Kita kaum muslimin tidak dapat memberikan ketentuan dengan menggunakan hitungan yang biasa kita kenal di dunia ini. Apabila ada orang yang mengklaim bahwa lamanya ada tujuh ribu tahun atau lebih atau kurang dari itu, maka orang yang berkata demikian, benar-benar telah mengemukakan sesuatu yang tidak ada keterangannya sama sekali dari Rasulullah saw. Sebabnya ialah karena dari beliau sendiri tidak pernah ada sebuah kata pun yang sahih mengenai hal itu, bahkan yang benar ada dari beliau adalah kebalikan atau yang berlawanan dari adanya ketentuan tadi. Oleh karena itu kita harus menetapkan saja bahwa dunia ini mempunyai suatu masa yang tertentu yang hanya diketahui oleh Allah Taala sendiri. Dalam hal ini Allah Taala berfirman, ‘Aku (Allah) tidak mempersaksikan kepada mereka mengenai penciptaan langit dan bumi, bahkan tidak pula mengenai penciptaan diri mereka sendiri’.” (Q.S. Al-Kahf:51)
Rasulullah saw. juga bersabda, “Tidaklah kamu semua jika dibandingkan dengan masa-masa umat yang sebelummu itu, melainkan hanya sebagai sehelai rambut putih di kulit lembu yang hitam atau sebagai sehelai rambut hitam di kulit lembu yang putih (maksudnya sebentar sekali).” Ini adalah suatu perumpamaan, maka bagi seseorang yang memikirkan hal dengan tenang serta mengetahui kadar pemeluk agama Islam dan disesuaikan pula dengan masa kemakmuran dunia yang ada di tangan mereka, tentu ia dapat mengambil kesimpulan bahwa dunia ini benar-benar mempunyai masa yang tidak dapat diketahui oleh siapa pun. Satu-satunya yang mengetahui hanyalah Allah swt.
Demikian pula apa yang disabdakan Rasulullah saw. bahwa waktu antara diutusnya beliau dengan waktu datangnya hari kiamat diumpamakan sebagai letak dua jarinya yang berdekatan yakni jari telunjuk dan jari tengah. Sewaktu menunjukkan beliau merapatkan letak dua jari tersebut. Dalil agama sudah jelas bahwa tibanya hari kiamat tidak dapat diketahui dengan pasti dan yang mengetahui hanyalah Allah Taala belaka. Jadi benarlah bahwa Rasulullah saw. dengan memberikan perumpamaan sebagaimana di atas, dengan maksud memberitahukan sangat dekatnya waktu itu, oleh sebab kedua jari beliau dirapatkan bukan direnggangkan jarak antara yang sebuah dengan yang lainnya. Sebabnya ialah andaikata demikian tujuannya, tentu dapat diambil kesimpulan berapa jarak yang ada antara kedua jari yang terlonggar atau dengan menyesuaikan panjang jarinya. Dengan mengukur demikian, tentu dapat dipastikan bila waktu tibanya hari kiamat itu. Tetapi perkiraan yang semacam itu pasti batal dan salah sama sekali. Lagi pula, jika ketentuan demikian ditemukan, tentu perumpamaan masa antara umat-umat dahulu dengan zaman kita sekarang ini sebagai sehelai rambut di kulit lembu sebagaimana hadis di atas, tentu merupakan suatu dusta belaka, naudzu billah min dzalik.
Oleh kerana yang terang dan jelas yang dimaksud oleh Rasulullah saw. dalam menunjukkan dua jari beliau yang mulia bukanlah supaya dapat dipastikan perkiraan bila tibanya hari kiamat, tetapi semata-mata sebagai gambaran tentang dekatnya saja. Hingga kini masa diutusnya Rasulullah saw. sudah lebih dari seribu empat ratus tahun, sedang Allah Taala akan lebih mengetahui lagi berapa usia yang tertinggal dari waktu dunia kita ini. Kalau pun masa sekian ini dianggap cukup lama, tetapi masih dapat dikatakan sebentar bila dibandingkan dengan masa sebelumnya yakni yang sudah lampau. Pendek kata masih sangat sedikit bila diukur dengan masa-masa yang telah berlalu karena Rasulullah saw. sendiri telah jelas memberikan perumpamaan antara masa kita sekarang dengan yang sudah-sudah sebagai sehelai rambut di kulit lembu atau sebagai suatu titik di lengan seekor keldai.
UNDANG-UNDANG KELUARGA ISLAM PART 1
Punca undang-undang Islam terdapat di dalam al-Quran yang mengandungi ajaran-ajaran yang diwahyukan oleh Allah bagi manusia dan ajaran-ajaran itu telah diterangkan dan diberi contoh oleh Nabi Muhammad s.a.w. yang mana baginda telah memberi tauladan bagaimana ajaran-ajaran al-Quran itu boleh dilaksanakan dalam kehidupan di dunia ini. Undang-Undang Islam kemudiannya telah diperkembangkan di dalam pelaksanaannya oleh Khulafak al-Rasyidin dan dengan usaha ulamak dan ahli Hukum yang telah berusaha menggunakan ijtihad mereka menerangkan dan menggunakan ajaran al-Quran dan Sunnah untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh mereka. Di dalam zaman moden ini, boleh dikatakan undang-undang itu telah dipengaruhi oleh perundangan dan keputusan-keputusan Mahkamah. Walau bagaimanapun kita perlu menyedari apa dia punca dan asas undang-undang Islam, sepertimana yang ditegaskan oleh Allah s.w.t. di dalam surah al-Nisa' ayat 59 yang bermaksud: "Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan uli"l amri (orang yang berkuasa) dari kalangan kamu. Kemudian jika kamu berbantah-bantah dalam sesuatu perkara, maka hendaklah kamu mengembalikan kepada Allah dan Rasulnya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat. yang demikian adalah lebih baik bagi kamu, dan lebih elok pada kesudahannya".
Perkahwinan
Islam telah menekankan kepentingan perkahwinan dan menguatkan perhubungan keluarga. Islam juga menekankan bahawa perkahwinan adalah yang penting dan pertama sekali perkara ibadat. Apabila kita merujuk kepada al-Quran kita dapati maksudnya "Wahai sekalian manusia! Bertakwalah kepada Tuhan kamu yang telah menjadikan kamu bermula dari diri yang satu dan yang menjadikan isterinya dan juga membiakkan dari keduanya zuriat keturunan laki-laki dan perempuan yang ramai. Dan bertakwalah kepada Allah yang kamu selalu meminta dengan menyebut namaNya, serta peliharalah hubungan arham; kerana sesungguhnya Allah sentiasa memerhati kamu". (surah al-Nisa' 4 : 1)
"Dialah (Allah) yang mencipta kamu semua dari (hakikat) diri yang satu dan ia mengadakan pada hakikat itu pasangannya (diri suami isteri) untuk bersenang hati dan hidup mesra yang satu kepada yang lain". (surah al-A'raaf 7 : 189)
"Dan di antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaanNya dan rahmatNya, bahawaIa menciptkan untuk kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya dan dijadikanNya di antara kamu suami-isteri perasaan kasih sayang dan belas kasihan". (Surah Ar-Rum 30::21)
"Dan Allah menjadikan bagi kamu dari diri kamu sendiri pasangan-pasangan dan dijadikan bagi kamu dari pasangan kamu anak-anak dan cucu cicit, serta kurniakan kepada kamu dari benda-benda yang baik lagi halal". (Surah An-Nahl 16:72)
Perkahwinan adalah dianjurkan bagi lelaki dan perempuan. Disebutkan di dalam Al-Quran maksudnya -
"Dan kahwinkanlah orang0orang yang bujang lelaki dan perempuan dari kalangan kamu dan orang-orang yang salih dari hamba-hamba kamu. Jika mereka miskin Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka dari limpah kurniaNya, kerana Allah Maha luas RahmatNya dan limpah kurniaNya lagi Maha Mengetahui. Dan orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan berkahwin hendaklah mereka menjaga kehormatannya sehingga Allah memberi kekayaan kepada mereka dari limpah kurniaNya". (Surah An-Nur 924:32 dan sebahagian 33)
Perkahwinan adalah sunnah Nabi (s.a.w.) dan beliau telah bersabda maksudnya -
"Demi Allah bukanlah aku ini orang yang paling taqwa kepada Allah, tetapi aku tetap berpuasa dan berbuka, bersalat dan tidur dan berkahwin. Barangsiapa membenci sunnahku, bererti ia bukan dari umatku".
Nabi (s.a.w.) juga telah bersabda maksudnya -
"Bila di antara kamu ada yang mampu kahwin hendaklah ia berkahwin, kerana nanti matanya akan lebih terjaga dan kemaluannya akan lebih terpelihara, Dan bilamana ia belum mampu kahwin hendaklah ia berpuasa kerana puasa itu mengawal nafsunya". (Sunan Abu Dawud, Kitab Al-Nihah)
Perkahwinan didalam Islam bukan perjanjian atau kontrak biasa akan tetapi ia adalah perjanjian yang kuat (mithaq ghlidha).
Di masa haji beliau yang terakhir Nabi (s.a.w.) telah berpesan maksudnya -
"Bertaqwalah kepada Allah mengenai kaum perempuan. Sebenarnya kamu telah mengambil mereka atas jaminan kepada Allah dan perhubungan jenis dengan mereka telah dihalal bagi kamu dengan perkataan-perkataan Allah". (Sahih Muslim, Kitab al-Haji Vol. 2 p. 615)
Di dalam al-Quran disebutkan maksudnya -
"Dan jika kamu hendaklah mengambil isteri menggantikan isteri lama yang kamu ceraikan sedang kamu telahpun memberikan kepadanya harta yang banyak maka janganlah kamu mengambil sedikit pun dari harta itu. Patutlah kamu mengambilnya dengan cara yang tidak benar dan yang menyebabkan dosa yang nyata? Dan bagaimana kamu tergamak mengambil balik pemberian itu padahal kasih mesra kamu telah terjalin antara satu dengan lain dan mereka pula telahpun mengambil perjanjian yang kuat (mithaq ghalidha) dari kami". (Surah An-Nisaa 4: 20-21) Supaya kita betul-betul memahami hak-hak dan kewajipan suami isteri di dalam Islam ada baiknya jikalau kita memandang kepada ajaran Islam mengenai kedudukan lelaki dan perempuan. Di dalam al-Quran disebutkan maksudnya:
"Sesungguhnya orang-orang lelaki yang Islam serta orang-orang perempuan yang Islam, dan orang-orang lelaki yang beriman serta orang-orang perempuan yang beriman, dan orang-orang lelaki yang taat serta orang-orang perempuan yang taat serta orang-orang perempuan yang benar, dan orang-orang lelaki yang sabar serta orang-orang perempuan yang sabar dan orang-orang lelaki yang merendah diri kepada Allah dan orang-orang perempuan yang merendah diri kepada Allah dan orang-orang lelaki yang bersedekah dan orang-orang perempuan yang bersedekah, dan orang-orang lelaki yang berpuasa serta orang-orang perempuan yang berpuasa, dan orang-orang lelaki yang memelihara kehormatan serta orang-orang perempuan yang memelihara kehormatan dan orang-orang lelaki yang menyebut nama Allah banyak-banyak serta orang-orang perempuan yang menyebut nama Allah banyak-banyak Allah telah menyediakan bagi mereka semuanya keampunan dan pahala yang besar". (Surah Al-Ahzab 33:35)
Mengenai hak-hak perempuan al-Quran menerangkan maskudnya -
"Dan isteri-isteri mempunyai hak yang sama seperti hak suami terhadap mereka dengan cara yang sepatutnya; dalam pada itu orang-orang lelaki mempunyai satu darjah kelebihan atas orang-orang perempuan". ( Surah Al-Baqarah 2:228)
Kedudukan itu telah dijelaskan di dalam suatu ayat al-Quran yang lain yang bermaksud -
" Kaum lelaki adalah pemimpin dan pengawal yang bertanggungjawab terhadap kaum perempuan, oleh kerana Allah telah melebihkan orang-orang lelaki atas orang-orang perempuan, dan juga kerana orang-orang lelaki telah membelanjakan dan memberi nafkah sebahagian dari harta mereka". (Surah an-Nisa 4:34)
Sabda Rasulullah s.a.w.
"Setiap orang dari kamu pengembala dan bertanggungjawab terhadap yang digembalakan. Kepala negara pengembala dan bertanggungjawab terhadap bawahannya. Seorang suami pengembala keluarganya dan bertanggungjawab terhadap yang digembalanya. Seorang isteri pengembala dalam ruamah suaminya dan bertanggungjawab terhadap yang digembalanya. Seorang makan gaji pengembala mengenai hartabenda majikannya dan bertanggungjawab terhadap yang digembalanya. Tiap-tiap orang dari kamu adalah pengembala dan bertanggungjawab terhadap apa yang digembalakannya".
Suami dan isteri hendaklah menguruskan soal rumahtangga mereka dengan cara tolong menolong dan bantu membantu. Seperti yang disebut di dalam al-Quran maksudnya -
"dan urusan mereka dijalankan secara bermesyuarat sesama mereka". (Surah Ash-Syura 42:38)
Akta Undang-Undang Keluarga Islam (Wilayah Persekutuan), 1984 memperuntukkan sesuatu perkahwinan adalah tak sah melainkan jika cukup semua syarat yang perlu, menurut Hukum Syara", untuk menjadikannya sah. Sebagai tambahan beberapa peruntukan pentadbiran telah diadakan di bawah Akta itu. Pada masa sekarang diperuntukkan bahawa suatu perkahwinan yang bersalahan dengan Akta ini tidak boleh didaftarkan di bawah Akta itu akan tetapi telah dicadangkan bahawa peruntukan itu hendaklah dipinda supaya memperuntukkan bahawa sesuatu perkahwinan yang bersalahan dengan Akta ini tidak boleh didaftarkan di bawah Akta itu akan tetapi telah dicadangkan bahawa peruntukan itu hendaklah dipinda supaya memperuntukkan bahawa sesuatu perkahwinan yang bersalahan dengan Akta itu akan tetapi sah mengikut Hukum Syarak hendaklah didaftarkan tertakluk kepada penalti yang dikenakan. Ini termasuk perkahwinan di bawah umur minima (S. 8) dan poligama (S. 23). Ada juga terdapat peruntukan cara bagi permohonan berkahwin dan untuk pendaftaran perkahwinan.
Antara peruntukan di dalam Akta itu adalah peruntukan yang memerlukan persetujuan wali pihak perempuan untuk perkahwinan selain dari persetujuan perempuan itu. Ini mengikut ajaran yang ditafsir di dalam mazhab itu. Antara hadis yang digunakan ialah hadis maksudnya -
"Perkahwinan seorang perempuan tanpa izin walinya, adalah batal, batal, batal - Jika ada pertelingkahan Sultan yang menjadi wali bagi seorang yang tidak mempunyai wali".
Mengenai poligami kita boleh merujuk kepada ayat di dalam al-Quran yang maksudnya -
"Dan jika kamu takut tidak berlaku adil terhadap perempuan-perempuan yatim, maka berkahwinlah dengan sesiapa yang kamu berkenan dari perempuan-perempuan lain, dua, tiga atau empat. Jika kamu bimbang tidak akan berlaku adil di antara isteri-isteri kamu maka berkahwinlah dengan seorang sahaja. Yang demikian itu adalah lebih dekat untuk mencegah supaya kamu tidak melakukan kezalaiman". (Surah An-Nisaa 4:3)
"Dan kamu tidak dapat berlaku adil di antara isteri-isteri kamu sekalipun kamu bersungguh-sungguh hendak melakukannya. Oleh itu janganlah kamu cenderung dengan melampau-melampau berat sebelah kepada isteri yang kamu sayangi sehingga kamu biarkan isteri yang lain seperti benda yang tergantung di awang-awang; dan jika kamu memperbaiki keadaan yang picang itu dan memelihara diri daripada perbuatan yang zalim maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihi". (Surah An-Nisaa 4:129)
Di dalam al-Quran disebutkan perkahwinan-perkahwinan yang dilarang, seperti maksudnya -
"Diharamkan kepada kamu berkahwin dengan perempuan-perempuan yang berikut - ibu-ibu kamu dan anak-anak kamu dan saudara-saudara kamu, dan saudara-saudara bapa kamu dan saudara-saudara ibu kamu dan anak-anak saudara kamu yang perempuan dan ibu-ibu yang telah menyusukan kamu dan suadara-saudara susuan kamu dan ibu-ibu isteri kamu dan anak-anak tiri yang dalam pemeliharaan kamu dari isteri-isteri yang kamu telah campuri; tetapi kalau kamu belum campuri mereka (isteri kamu) itu dan kamu telahpun menceraikan mereka, maka tiadalah salah kamu berkahwin dengannya. Dan haram juga kamu berkahwin dengan bekas isteri anak-anak kamu sendiri yang berasal dari benih kamu. Dan diharamkan kamu menghimpunkan dua beradik sekali untuk menjadi isteri-isteri kamu kecuali yang telah berlaku pada masa yang lalu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihi.
Dan diharamkan juga kamu berkahwin dengan perempuan-perempuan isteri orang. Haramnya segala yang tersebut itu ialah suatu ketetapan Allah yang diwajibkan ke atas kamu. Dan sebaliknya dihalalkan bagi kamu perempuan-perempuan yang lain daripada yang tersebut, untuk kamu mencari isteri dengan harta kamu secara bernikah, bukan secara zina. Kemudian mana-mana perempuan yang kamu nikmati percampuran dengannya setelah ia menjadi isteri kamu maka berikanlah kepada mereka maskahsinnya dengan sempurna sebagai ketetapan yang diwajibkan oleh Allah. Dan tiadalah kamu berdosa mengenai sesuatu persetujuan yang telah dicapai bersama oleh kamu suami isteri, sesudah ditetapkan maskahwin itu tentang cara dan kadar pembayarannya. Sesungguhpun Allah Mengetahui, lagi Maha Bijaksana". (Surah An-Nisaa 4: 23 - 24)
Disebutkan juga di dalam al-Quran maksudnya -
"Dan janganlah kamu berkahwin dengan perempuan-perempuan kafir musyrik sebelum mereka beriman dan sesungguhnya seorang hamba perempuan yang beriman itu lebih baik daripada perempuan musyrik kafir sekalipun keadaannya menarik hati kamu. Dan janganlah kamu kahwinkan perempuan-perempuan Islam dengan lalaki kafir musyrik sebelum mereka beriman. Dan sesungguhnya seorang hamba lelaki yang beriman lebih baik daripada seorang lelaki musyrik, sekalipun keadaannya menarik hati kamu. Yang demikian ialah kerana orang-orang kafir itu itu mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke syurga dan memberi keampunan dengan izinNya. Dan Allah menjelaskan ayat-ayatNya kepada umat manusia, supaya mereka dapat megambil pelajaran". (Surah al-Baqarah 2:221)
"Pada masa ini dihalalkan bagi kamu memakan makanan yang lazat serta baik. Dan makanan orang-orang yang diberikan Kitab itu adalah halal bagi kamu, dan makanan kamu adalah halal bagi mereka. Dan dihalalkan kamu berkahwin dengan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan juga perempuan-perempuan yang menjagi kehormatannya dari kalangan orang-orang yang diberikan Kitab dahulu daripada kamu apabila kamumemberi mereka maskahwinnya, sedang kamu bernikah bukan berzina dan bukan pula kamu mengambil mereka menjadi perempuan-perempuan simpanan. Dan sesiapa yang ingkar sesudah ia beriman maka sesungguhnya gugurlah amalannya dan adalah ia pada hari akhirat kelak dari orang-orang yang rugi". (Surah al-Midah 5:5)
Perkahwinan
Islam telah menekankan kepentingan perkahwinan dan menguatkan perhubungan keluarga. Islam juga menekankan bahawa perkahwinan adalah yang penting dan pertama sekali perkara ibadat. Apabila kita merujuk kepada al-Quran kita dapati maksudnya "Wahai sekalian manusia! Bertakwalah kepada Tuhan kamu yang telah menjadikan kamu bermula dari diri yang satu dan yang menjadikan isterinya dan juga membiakkan dari keduanya zuriat keturunan laki-laki dan perempuan yang ramai. Dan bertakwalah kepada Allah yang kamu selalu meminta dengan menyebut namaNya, serta peliharalah hubungan arham; kerana sesungguhnya Allah sentiasa memerhati kamu". (surah al-Nisa' 4 : 1)
"Dialah (Allah) yang mencipta kamu semua dari (hakikat) diri yang satu dan ia mengadakan pada hakikat itu pasangannya (diri suami isteri) untuk bersenang hati dan hidup mesra yang satu kepada yang lain". (surah al-A'raaf 7 : 189)
"Dan di antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaanNya dan rahmatNya, bahawaIa menciptkan untuk kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya dan dijadikanNya di antara kamu suami-isteri perasaan kasih sayang dan belas kasihan". (Surah Ar-Rum 30::21)
"Dan Allah menjadikan bagi kamu dari diri kamu sendiri pasangan-pasangan dan dijadikan bagi kamu dari pasangan kamu anak-anak dan cucu cicit, serta kurniakan kepada kamu dari benda-benda yang baik lagi halal". (Surah An-Nahl 16:72)
Perkahwinan adalah dianjurkan bagi lelaki dan perempuan. Disebutkan di dalam Al-Quran maksudnya -
"Dan kahwinkanlah orang0orang yang bujang lelaki dan perempuan dari kalangan kamu dan orang-orang yang salih dari hamba-hamba kamu. Jika mereka miskin Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka dari limpah kurniaNya, kerana Allah Maha luas RahmatNya dan limpah kurniaNya lagi Maha Mengetahui. Dan orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan berkahwin hendaklah mereka menjaga kehormatannya sehingga Allah memberi kekayaan kepada mereka dari limpah kurniaNya". (Surah An-Nur 924:32 dan sebahagian 33)
Perkahwinan adalah sunnah Nabi (s.a.w.) dan beliau telah bersabda maksudnya -
"Demi Allah bukanlah aku ini orang yang paling taqwa kepada Allah, tetapi aku tetap berpuasa dan berbuka, bersalat dan tidur dan berkahwin. Barangsiapa membenci sunnahku, bererti ia bukan dari umatku".
Nabi (s.a.w.) juga telah bersabda maksudnya -
"Bila di antara kamu ada yang mampu kahwin hendaklah ia berkahwin, kerana nanti matanya akan lebih terjaga dan kemaluannya akan lebih terpelihara, Dan bilamana ia belum mampu kahwin hendaklah ia berpuasa kerana puasa itu mengawal nafsunya". (Sunan Abu Dawud, Kitab Al-Nihah)
Perkahwinan didalam Islam bukan perjanjian atau kontrak biasa akan tetapi ia adalah perjanjian yang kuat (mithaq ghlidha).
Di masa haji beliau yang terakhir Nabi (s.a.w.) telah berpesan maksudnya -
"Bertaqwalah kepada Allah mengenai kaum perempuan. Sebenarnya kamu telah mengambil mereka atas jaminan kepada Allah dan perhubungan jenis dengan mereka telah dihalal bagi kamu dengan perkataan-perkataan Allah". (Sahih Muslim, Kitab al-Haji Vol. 2 p. 615)
Di dalam al-Quran disebutkan maksudnya -
"Dan jika kamu hendaklah mengambil isteri menggantikan isteri lama yang kamu ceraikan sedang kamu telahpun memberikan kepadanya harta yang banyak maka janganlah kamu mengambil sedikit pun dari harta itu. Patutlah kamu mengambilnya dengan cara yang tidak benar dan yang menyebabkan dosa yang nyata? Dan bagaimana kamu tergamak mengambil balik pemberian itu padahal kasih mesra kamu telah terjalin antara satu dengan lain dan mereka pula telahpun mengambil perjanjian yang kuat (mithaq ghalidha) dari kami". (Surah An-Nisaa 4: 20-21) Supaya kita betul-betul memahami hak-hak dan kewajipan suami isteri di dalam Islam ada baiknya jikalau kita memandang kepada ajaran Islam mengenai kedudukan lelaki dan perempuan. Di dalam al-Quran disebutkan maksudnya:
"Sesungguhnya orang-orang lelaki yang Islam serta orang-orang perempuan yang Islam, dan orang-orang lelaki yang beriman serta orang-orang perempuan yang beriman, dan orang-orang lelaki yang taat serta orang-orang perempuan yang taat serta orang-orang perempuan yang benar, dan orang-orang lelaki yang sabar serta orang-orang perempuan yang sabar dan orang-orang lelaki yang merendah diri kepada Allah dan orang-orang perempuan yang merendah diri kepada Allah dan orang-orang lelaki yang bersedekah dan orang-orang perempuan yang bersedekah, dan orang-orang lelaki yang berpuasa serta orang-orang perempuan yang berpuasa, dan orang-orang lelaki yang memelihara kehormatan serta orang-orang perempuan yang memelihara kehormatan dan orang-orang lelaki yang menyebut nama Allah banyak-banyak serta orang-orang perempuan yang menyebut nama Allah banyak-banyak Allah telah menyediakan bagi mereka semuanya keampunan dan pahala yang besar". (Surah Al-Ahzab 33:35)
Mengenai hak-hak perempuan al-Quran menerangkan maskudnya -
"Dan isteri-isteri mempunyai hak yang sama seperti hak suami terhadap mereka dengan cara yang sepatutnya; dalam pada itu orang-orang lelaki mempunyai satu darjah kelebihan atas orang-orang perempuan". ( Surah Al-Baqarah 2:228)
Kedudukan itu telah dijelaskan di dalam suatu ayat al-Quran yang lain yang bermaksud -
" Kaum lelaki adalah pemimpin dan pengawal yang bertanggungjawab terhadap kaum perempuan, oleh kerana Allah telah melebihkan orang-orang lelaki atas orang-orang perempuan, dan juga kerana orang-orang lelaki telah membelanjakan dan memberi nafkah sebahagian dari harta mereka". (Surah an-Nisa 4:34)
Sabda Rasulullah s.a.w.
"Setiap orang dari kamu pengembala dan bertanggungjawab terhadap yang digembalakan. Kepala negara pengembala dan bertanggungjawab terhadap bawahannya. Seorang suami pengembala keluarganya dan bertanggungjawab terhadap yang digembalanya. Seorang isteri pengembala dalam ruamah suaminya dan bertanggungjawab terhadap yang digembalanya. Seorang makan gaji pengembala mengenai hartabenda majikannya dan bertanggungjawab terhadap yang digembalanya. Tiap-tiap orang dari kamu adalah pengembala dan bertanggungjawab terhadap apa yang digembalakannya".
Suami dan isteri hendaklah menguruskan soal rumahtangga mereka dengan cara tolong menolong dan bantu membantu. Seperti yang disebut di dalam al-Quran maksudnya -
"dan urusan mereka dijalankan secara bermesyuarat sesama mereka". (Surah Ash-Syura 42:38)
Akta Undang-Undang Keluarga Islam (Wilayah Persekutuan), 1984 memperuntukkan sesuatu perkahwinan adalah tak sah melainkan jika cukup semua syarat yang perlu, menurut Hukum Syara", untuk menjadikannya sah. Sebagai tambahan beberapa peruntukan pentadbiran telah diadakan di bawah Akta itu. Pada masa sekarang diperuntukkan bahawa suatu perkahwinan yang bersalahan dengan Akta ini tidak boleh didaftarkan di bawah Akta itu akan tetapi telah dicadangkan bahawa peruntukan itu hendaklah dipinda supaya memperuntukkan bahawa sesuatu perkahwinan yang bersalahan dengan Akta ini tidak boleh didaftarkan di bawah Akta itu akan tetapi telah dicadangkan bahawa peruntukan itu hendaklah dipinda supaya memperuntukkan bahawa sesuatu perkahwinan yang bersalahan dengan Akta itu akan tetapi sah mengikut Hukum Syarak hendaklah didaftarkan tertakluk kepada penalti yang dikenakan. Ini termasuk perkahwinan di bawah umur minima (S. 8) dan poligama (S. 23). Ada juga terdapat peruntukan cara bagi permohonan berkahwin dan untuk pendaftaran perkahwinan.
Antara peruntukan di dalam Akta itu adalah peruntukan yang memerlukan persetujuan wali pihak perempuan untuk perkahwinan selain dari persetujuan perempuan itu. Ini mengikut ajaran yang ditafsir di dalam mazhab itu. Antara hadis yang digunakan ialah hadis maksudnya -
"Perkahwinan seorang perempuan tanpa izin walinya, adalah batal, batal, batal - Jika ada pertelingkahan Sultan yang menjadi wali bagi seorang yang tidak mempunyai wali".
Mengenai poligami kita boleh merujuk kepada ayat di dalam al-Quran yang maksudnya -
"Dan jika kamu takut tidak berlaku adil terhadap perempuan-perempuan yatim, maka berkahwinlah dengan sesiapa yang kamu berkenan dari perempuan-perempuan lain, dua, tiga atau empat. Jika kamu bimbang tidak akan berlaku adil di antara isteri-isteri kamu maka berkahwinlah dengan seorang sahaja. Yang demikian itu adalah lebih dekat untuk mencegah supaya kamu tidak melakukan kezalaiman". (Surah An-Nisaa 4:3)
"Dan kamu tidak dapat berlaku adil di antara isteri-isteri kamu sekalipun kamu bersungguh-sungguh hendak melakukannya. Oleh itu janganlah kamu cenderung dengan melampau-melampau berat sebelah kepada isteri yang kamu sayangi sehingga kamu biarkan isteri yang lain seperti benda yang tergantung di awang-awang; dan jika kamu memperbaiki keadaan yang picang itu dan memelihara diri daripada perbuatan yang zalim maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihi". (Surah An-Nisaa 4:129)
Di dalam al-Quran disebutkan perkahwinan-perkahwinan yang dilarang, seperti maksudnya -
"Diharamkan kepada kamu berkahwin dengan perempuan-perempuan yang berikut - ibu-ibu kamu dan anak-anak kamu dan saudara-saudara kamu, dan saudara-saudara bapa kamu dan saudara-saudara ibu kamu dan anak-anak saudara kamu yang perempuan dan ibu-ibu yang telah menyusukan kamu dan suadara-saudara susuan kamu dan ibu-ibu isteri kamu dan anak-anak tiri yang dalam pemeliharaan kamu dari isteri-isteri yang kamu telah campuri; tetapi kalau kamu belum campuri mereka (isteri kamu) itu dan kamu telahpun menceraikan mereka, maka tiadalah salah kamu berkahwin dengannya. Dan haram juga kamu berkahwin dengan bekas isteri anak-anak kamu sendiri yang berasal dari benih kamu. Dan diharamkan kamu menghimpunkan dua beradik sekali untuk menjadi isteri-isteri kamu kecuali yang telah berlaku pada masa yang lalu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihi.
Dan diharamkan juga kamu berkahwin dengan perempuan-perempuan isteri orang. Haramnya segala yang tersebut itu ialah suatu ketetapan Allah yang diwajibkan ke atas kamu. Dan sebaliknya dihalalkan bagi kamu perempuan-perempuan yang lain daripada yang tersebut, untuk kamu mencari isteri dengan harta kamu secara bernikah, bukan secara zina. Kemudian mana-mana perempuan yang kamu nikmati percampuran dengannya setelah ia menjadi isteri kamu maka berikanlah kepada mereka maskahsinnya dengan sempurna sebagai ketetapan yang diwajibkan oleh Allah. Dan tiadalah kamu berdosa mengenai sesuatu persetujuan yang telah dicapai bersama oleh kamu suami isteri, sesudah ditetapkan maskahwin itu tentang cara dan kadar pembayarannya. Sesungguhpun Allah Mengetahui, lagi Maha Bijaksana". (Surah An-Nisaa 4: 23 - 24)
Disebutkan juga di dalam al-Quran maksudnya -
"Dan janganlah kamu berkahwin dengan perempuan-perempuan kafir musyrik sebelum mereka beriman dan sesungguhnya seorang hamba perempuan yang beriman itu lebih baik daripada perempuan musyrik kafir sekalipun keadaannya menarik hati kamu. Dan janganlah kamu kahwinkan perempuan-perempuan Islam dengan lalaki kafir musyrik sebelum mereka beriman. Dan sesungguhnya seorang hamba lelaki yang beriman lebih baik daripada seorang lelaki musyrik, sekalipun keadaannya menarik hati kamu. Yang demikian ialah kerana orang-orang kafir itu itu mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke syurga dan memberi keampunan dengan izinNya. Dan Allah menjelaskan ayat-ayatNya kepada umat manusia, supaya mereka dapat megambil pelajaran". (Surah al-Baqarah 2:221)
"Pada masa ini dihalalkan bagi kamu memakan makanan yang lazat serta baik. Dan makanan orang-orang yang diberikan Kitab itu adalah halal bagi kamu, dan makanan kamu adalah halal bagi mereka. Dan dihalalkan kamu berkahwin dengan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan juga perempuan-perempuan yang menjagi kehormatannya dari kalangan orang-orang yang diberikan Kitab dahulu daripada kamu apabila kamumemberi mereka maskahwinnya, sedang kamu bernikah bukan berzina dan bukan pula kamu mengambil mereka menjadi perempuan-perempuan simpanan. Dan sesiapa yang ingkar sesudah ia beriman maka sesungguhnya gugurlah amalannya dan adalah ia pada hari akhirat kelak dari orang-orang yang rugi". (Surah al-Midah 5:5)
BALIK KAMPUNG....
Sehari sebelum hari raya aidil adha 26 Nov 2009 kami sekeluarga telah balik ke kampung dimana lokasi pertama kami ialah singgah sebentar melihat rumah kami di Pulai Impian Seremban. Perjalanan kami ke Melaka diteruskan selepas maghrib setelah siap mengemas rumah kami yang agak lama ditinggalkan. Sempat juga bertemu dengan jiran-jiran sambil bertanyakan khabar. Cuti berhari raya korban tahun ini agak berlainan sedikit kerana firt time bercuti semasa perkhidmatan. Sepanjang berkhidmat dengan angkatan tentera belum pernah bercuti dan tidak mengambil bahagian dalam aktiviti korban di Pasukan. Namun pada tahun ini, mengambil kira permintaan isteri dan anak-anak, ditambah pula dengan keinginan isteri yang kini berbadan dua yang ingin sekali menikmati juadah ibu di kampung maka dengan keizinan pihak pangkalan, ini merupakan cuti yang amat bermakna buat diri saya dan keluarga. Apa pun kami sekeluarga ingin mengucapkan selamat hari raya aidil adha kepada semua rakan-rakan sekerja, staf KAGAT pangkalan, serta semua kaum muslimin dan muslimat..... labbaikalllah humma labbaik, labbaikala syarikalakalabbaik
MAJLIS PERPISAHAN PEJABAT AGAMA PANGKALAN
Pada hari Rabu yang lalu pada tanggal 25 Nov 2009, satu majlis perpisahan sempena pertukaran anggota KAGAT TUDM kuantan telah diadakan di New Horizon restaurant kuantan. anggota yang terlibat adalah seperti berikut:
1. PW 2 Anuar b Samad ( Bersara)2. Lkpl Mazlan bin Abdullah ( bertukar ke PLKN Muazzam shah)
3. Lkpl Shahrom b Abd Razak (bertukar ke PLKN Chini)
Majlis juga meraikan pertukaran Mej Man Ghazali bin Hamid TUDM selaku Ketua Cawang Tadbir Pangkalan Udara Kuantan yang bertukar keluar ke Mindef dibahagian Sumber Manusia. majlis ini merupakan salah satu daripada tanda kenangan kepada anggota KAGAT yang mana telah banyak menabur bakti sebagai Daie askari sepanjang menabur bakti di Pangkalan ini. kepada anggota KAGAT yang telah bertukar dan bersara, saya selaku pegawai agama pangkalan ingin mengucapkan selamat berjaya ditempat baru serta sentiasa beroleh kejayaan dimana jua mereka bertugas.
Subscribe to:
Posts (Atom)






